Gagal Panen, 75 Hektare Lahan Sawah Jadi Percontohan Food Estate

Bupati OKU Timur H Lanosin ST tinjau lokasi sawah gagal panen di Kecamatan Buay Madang Timur, Selasa (29/06). Foto: humas pemkab OKUT

MARTAPURA, PALPOS.ID – 75 hektare lahan sawah, di Desa Kumpul Rejo, Kecamatan Buay Madang Timur, Kabupaten OKU Timur mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus.

Bupati OKU Timur, H Lanosin ST yang turun langsung ke lokasi dan berdiskusi dengan para petani berjanji akan menjadikan lahan tersebut menjadi percontohan food estate, Selasa (29/06).

“Semalam saya dapat laporan bahwasanya ada 75 hektare lahan persawahan masyarakat di Desa Kumpul Rejo Kecamatan BMT mengalami gagal panen yang disebabkan serangan hama tikus dan vector. Menindaklanjuti laporan tersebut, hari ini saya dengan didampingi oleh dinas – dinas terkait langsung melakukan peninjauan lokasi gagal panen tersebut guna mengakomodir keluhan masyarakat serta memberikan solusi akan permasalahan yang terjadi”, ujar Bupati.

Ditambahkan Bupati, dari kegiatan peninjauan lahan serta musyawarah bersama kelompok tani dan masyarakat Desa Kumpul Rejo telah diperoleh kesepakatan bahwasannya lahan seluas 75 hektare tersebut nantinya akan dijadikan sebagai lahan percontohan food estate. Untuk menunjang program tersebut, nantinya akan diberikan bantuan alat bajak, bibit, dan alat pembasmi hama oleh pemerintah Kabupaten OKU Timur melalui Dinas Pertanian.

“Food estate merupakan konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan bahkan peternakan di suatu kawasan. Melalui program food estate dan bantuan pengolahan tanah, akan menjadi desa percontohan,” tegasnya.

Sementara Kepala Dinas Pertanian OKU Timur Ir Tubagus Sunarseno M.Si menambahkan, pihaknya melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) telah berupaya menanggulangi serangan hama tikus. Menurutnya, tidak serempaknya masa tanam menjadi salah satu penyebab terjadinya serangan hama tikus.

“Upaya pemberantasan hama tikus sudah dilakukan melalui gerakan bersama pemberantasan hama tikus dan kami juga mendorong petani untuk ikut asuransi,” paparnya. (*)

Editor: Bambang Samudera