Sudah Meninggal ‘Disuruh’ Memilih

Petugas KPPS memasang pengumuman di depan pintu masuk sebuah TPS pada Pemilu, 17 April 2019 lalu.

PAGARALAM, PALPOS.ID – Sudah meninggal tapi masih ‘disuruh’ memilih. Kok bisa? Memang bisa. Ini karena meski sudah meninggal, data orang itu belum juga dihapus dalam sistem kependudukan.

“Kalau namanya masih ada (dalam sistem kependudukan), maka akan tetap tercatat dalam daftar pemilih. Kita tak bisa menghapusnya,” ujar anggota KPU Kota Pagaralam Divisi Program dan Data, Irfan Amd, kepada Palpos.ID.

Dijelaskannya, itu terjadi lantaran tak ada laporan kepada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Pagaralam, bahwa orang tersebut sudah meninggal dunia untuk kemudian diterbitkan sertifikat kematiannya.

“Ketika sertifikat kematian diterbitkan, nama orang meninggal dunia itu pun dihapus di sistem kependudukan,” ungkap Irfan.

Oleh karena itu sambung Irfan, bila seseorang sudah meninggal dunia, baiknya dilaporkan. Supaya namanya segera dihapus dalam sistem kependudukan. Ini kemudian akan terkait dengan daftar pemilih. “Ketika namanya sudah dihapus, otomatis namanya tak akan masuk lagi dalam daftar pemilih,” tutur Irfan.

“KPU hanya sekedar melakukan update data yang sumbernya dari Dukcapil,” imbuhnya seraya mengatakan KPU Kota Pagaralam sendiri tiap bulannya meng-update data pemilih yang kemudian disebut dengan Daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB).

Masih kata Irfan, di bulan Juli ini  jumlah mata pilih di Pagaralam yang tercatat dalam DPB sebanyak 104.651 jiwa. “Jumlah ini tak berubah dari Juni lalu,” ungkap komisioner KPU Pagaralam tersebut.

Irfan pun mengakui, tak ada jaminan orang meninggal dunia sudah dikeluarkan dari DPB ini. Sebab ia bilang, kesadaran untuk melaporkan peristiwa kematian kepada Dukcapil masih rendah. Maka apa boleh buat, yang sudah meninggal dunia pun masih disuruh memilih. (*)