Rumah Produksi Tahu Nyaris Ambruk, Pekerja Pontang Panting

Tanah longsor, bangunan bagian belakang pabrik tahu nyaris ambruk, Rabu (15/09). Foto: maryati/palpos.id

LUBUKLINGGAU, PALPOS.ID – Musibah tanah longsor terjadi di Jalan Dempo RT 08, Kelurahan Dempo, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Kota Lubuklinggau. Akibatnya sebagian rumah produksi tahu amruk dan delapan orang pekerja pontang panting menyelamatkan diri.

“Kami kaget karena ada getaran kuat dan suara keras dari belakang yang ternyata tanah longsor,” ungkap Dermawan yang dijumpai di lokasi kejadian, Rabu (15/9). Diceritakannya musibah tanah longsor itu terjadi Jumat (10/9), sekitar pukul 10.00 WIB.

Saat itu pekerja pabrik tahu skala home industri, seperti biasa sedang memproduksi tahu. Lalu terasa ada getaran yang kuat, mengira ada gempa mereka sempat bersikap biasa saja.

Namun tidak berapa lama getaran kembali terjadi dan ada suara gemuru dari belakang bagian belakang pabrik (rumah produksi) tahu. Ternyata suara itu ditimbulkan oleh suara tanah longsor dan tiang penyangga bangunan bagian belakang yang patah.

Tidak berapa lama bagian belakang yang difungsikan sebagai gudang penyimpanan barang-barng yang tidak terpakai amruk. “Suaranya keras bruuk, terus bangunan permanen bagian belakang amruk,” ujarnya.

Sementara itu pemilik pabrik tahu Siti Musliha, menjelaskan bahwa bagian belakang pabrik tahu miliknya memang berada di tepi dan menghadap Sungai Mesat. Aliran sungai Mesat ini bertemu langsung dengan aliran drainase besar yang berasal dari jalan utama.

“Mungkin karena posisi bangunan belakang menghadap pertemuan aliran Sungai Mesat dan aliran air drainase, sehingga saat air pasang membuat tanah disekitar erosi hingga terjadi longsor,” jelasnya.

Padahal lanjutnya, untuk menahan hantaman air dari sungai Mesat dan Drainase tersebut, keluarganya sudah membangun talud bertingkat dan pondasi yang kuat. Tetapi ternyata lanjutnya takut dan pondasi yang dibangun hanya bertahan selikitar 14 tahun saja. “Sudah lama dinagunankan talud menahan, 14 tahun tapi kemudian amruk juga,” ujarnya.

Pantauan di lokasi kejadian, bangunan rumah produksi itu memang rawan longsor. Karena selain lokasi berada di tepian sungai Mesat juga dekat dengan drainase pembuangan air.

Untuk menghindari longsor susulan pemilik pabrik tahu sudah kembali membuatkan talud penahan longsor sementara dengan karung yang diisi tanah. Itu diprediksi hanya untuk sementara waktu agar tanah yang ada tidak kembali longsor dan membuat amruk seluruh bagian rumah produksi tahu tersebut.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Lubuklinggau, Lutfi, melalui Kabid Penanggulangan Bencana Suryo Amrinata menyampaikan agar warga di bantaran sungai selalu waspada. Terutama mereka yang berada di daerah yang rawan longsor yakni Mesat Seni dan Mesat Jaya.

“Sekarang musim penghujan masyarakat kita minta tidak membangun dibawah tebing yang dapat berpotensi longsor, kita juga minta masyarakat tidak menebang pohon sembarangan,” pungkasnya. (*)

Editor: Bambang Samudera