Enam Pelaku Pengeboran Sumur Minyak Ilegal Ditangkap, Dampaknya Kebakaran Hutan hingga Kekeringan

Enam pelaku diamankan di Polda Sumsel, Kamis (7/10). Foto: pahmi/palpos.id

PALEMBANG, PALPOS.ID – Ditemukan kurang lebih 1.000 sumur minyak ilegal di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), hingga Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel) bersama TNI dan instansi terkait berhasil mengamankan enam pelaku.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Drs Toni Harmanto, didampingi Direktur Ditreskrimsus Polda Sumsel, Kombes Pol M Barly Ramadhany mengatakan, bahwa ini merupakan hasil penegakan hukum ilegal drilling pihaknya bersama satgas gabungan, Kamis (7/10).

Irjen Pol Toni menuturkan, anggotanya tidak akan berhenti sampai disini karena adanya potensi lain terkait pelaku-pelaku lainnya. “Dalam hal ini kami kami sudah membahasnya dalam Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Ini tidak akan berhenti sampai di enam pelaku ini saja, bahkan jumlah sumur pun akan diprediksikan akan bertambah untuk itu kita harus mengupas tuntas kasus ini,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, akibat penambangan sumur ilegal tersebut bisa mengakibatkan dampak luar biasa terhadap lingkungan seperti kekeringan hingga kebakaran hutan. “Saya tegaskan ini bukan hanya kewenangan kita saja tapi harus disikapi bersama mengenai isu ini,” ungkapnya.

Oleh karenanya, lanjut Irjen Pol Toni mengatakan, akan  memutuskan mata rantai minyak ilegal tersebut. “Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah terkait untuk menyiapkan lapangan pekerjaan bagi penambang minyak ilegal,” jelasnya.

Diketahui sejauh ini, Kabupaten Musi Banyuasin adalah wilayah yang memiliki lokasi terbanyak penghasil minyak di wilayah Sumsel. “Untuk pelaku illegal drilling dapat dilakukan perekrutan ke perusahaan sebagai upaya pembinaan rakyat penambang ilegal,” ungkapnya.

Ia menegaskan, akan memberikan sanksi hukum yang tegas, baik dari hilir maupun pelaku perorangan illegal drilling untuk memutus mata rantai penjualan minyak ilegal tersebut.

“Kita harap bisa memutus mata rantai penjualan minyak ilegal di wilayah kita ini. Karena ini tidak sekali terjadi namun berulang tahun, ini kita lakukan agar tidak ada lagi minyak ilegal dan lingkungan akan terasa lebih aman dan nyaman,” tutupnya. (*)

Editor: Bambang Samudera