Ahli Waris Kecewa Dengan Layanan BRI Capem Martapura dan Asuransi BRI Life

Helon Febri saat menyampaikan keluhannya kepada wartawan. Inzet: Relationship Manager BRI Kantor Cabang Pembantu Martapura, Firmansyah saat memberikan penjelasan kepada wartawan. (Foto : Eko/Palpos.id)

BATURAJA, PALPOS.ID  – Keluarga almarhum Toham, debitur Bank Rakyat Indonesia Cabang Pembantu Martapura, Kabupaten OKU Timur, diduga keberatan dan kecewa dengan layanan bank berplat merah itu lantaran masih harus membayar piutang padahal pinjaman tersebut diasuransikan.

Diungkapkan ahli waris Toham yakni Helon Febri, orang tuanya yakni almarhum Toham pada 2019 silam meminjam uang kepada BRI Cabang Baturaja sebesar Rp 150 juta. “Pinjaman tersebut diasuransikan dan telah dilunasi oleh ayah saya,” ucap Helon didampingi kuasa hukumnya dari Alfi Ahmad Law Firm & Partner yakni Alfi Syahrin SH MH didampingi Ahmad Jumaidi SH dan Rambaik Ritonga SH, di Baturaja, belum lama ini.

Kemudian, lanjut Helon, pada Maret 2020, almarhum ayahnya kembali meminjam uang kepada BRI cabang pembantu Martapura sebesar Rp400 juta. “Sudah diangsur oleh almarhum sebanyak 8 bulan terhitung dari April 2020 sampai November 2020,” imbuhnya.

Dilanjutkannya, selang waktu 8 bulan dari pinjaman kedua, yaitu pada 10 Oktober 2020, almarhum Toham mengajukan kembali pinjaman kepada BRI Kantor Cabang Pembantu Martapura sebesar Rp200 juta. “Kedua pinjaman yang belum lunas tersebut dilakukan dengan sistem rekening koran,” ungkap Helon.

Kendati demikian, lanjut Helon, pinjaman tersebut disertai asuransi oleh almarhum Toham kepada PT Asuransi BRI Life Martapura. “Nomor polis 81300356, melalui BRI Kantor Cabang Pembantu Martapura,” ujar petani jagung ini yang mewarisi dari almarhum ayahnya.

Ditambahkannya, pada 30 November 2020, almarhum meninggal dunia dan meninggalkan hutang dengan total sebesar Rp600 juta. “Desember 2020, kedua angsuran tersebut digabung menjadi satu oleh pihak BRI. Sebelumnya angsuran tersebut dibayarkan secara terpisah akan tetapi dalam satu nomor rekening,” imbuh Helon.

Dijelaskannya, bahwa asuransi kredit tersebut dibiarkan almarhum Toham secara terpisah dengan angsuran pinjaman per bulannya dengan cara penarikan otomatis ke rekening asuransi BRI Life Martapura. “Premi sebesar Rp 1 juta setiap bulannya,” ungkap Helon.

Dijelaskannya, Januari 2021, ahli waris menteri manfaat dari klaim asuransi sebesar Rp 280 juta yang mana kirim asuransi tersebut terbagi menjadi 2 bagian. Yakni, klaim asuransi kredit dari BRI Life sebesar Rp 150 juta atas pinjaman almarhum yang telah lunas sebesar Rp 150 juta kepada BRI cabang Baturaja. “Serta klaim asuransi kredit dari BRI Life sebesar Rp 130 juta atas pinjaman almarhum sebesar Rp 600 juta kepada BRI Kantor Cabang Pembantu Martapura,” beber Helon.

Diungkapkannya, pada saat pencairan dana asuransi tersebut, pihak ahli waris tidak menerima uang tunai dan hanya menerima papan simbolis karena uang tersebut telah diambil oleh pihak BRI untuk mengurangi pokok hutang. “Pihak asuransi BRI Life meminta ahli waris untuk menandatangani blangko kosong yang ahli waris tidak mengetahui isinya,” terang Helon.

Ditambahkannya, bahwa sisa hutang pokok almarhum Toham dikurangi dari klaim asuransi sebesar Rp 320 juta dengan angsuran bunga sebesar Rp 4 juta yang harus dibayar setiap bulannya. “Sedangkan pokoknya yaitu Rp 320 juta harus dibayarkan selama 24 bulan,” imbuhnya.

Menurut Helon, bahwa saat ini ahli waris kesulitan untuk menanggung beban hutang dikarenakan usaha almarhum yang dikelola oleh ahli waris mengalami penurunan dan sudah pernah menanyakan mengenai klaim asuransi yang tidak full. “Tapi pihak asuransi BRI Life beralasan bahwa asuransi yang diikuti oleh almarhum Toham adalah angsuran kecil,” pungkas Helon.

Sementara Alfi Syahrin SH MH dari Alfi Ahmad Law Firm & Partner, menegaskan, sebagai kuasa hukum ahli waris debitur Toham, pihaknya meminta sertifikat yang dijaminkan debitur atas nama almarhum Toham dikembalikan BRI Cabang Pembantu Martapura. “Serta semua hutang piutang atas nama debitur almarhum. Toham lunas,” tegas Alfi.

Selain itu, lanjut Alfi, klaim asuransi di BRI Life atas nama almarhum Toham dicairkan oleh BRI Life. “Terkait permasalahan klien kami ini, kami sudah melaporkan Ombudsman dan OJK,” pungkas Alfi.

Terpisah Relationship Manager BRI Kantor Cabang Pembantu Martapura, Firmansyah, saat dikonfirmasi terkait masalah ini angkat bicara.

Firmansyah menerangkan, bahwa pinjaman debitur almarhum Tohan merupakan pinjaman kecil atau retail. “Asuransi wajib bagi pinjaman retail yakni wajib asuransi kebakaran mengenai asuransi jiwa itu tidak diwajibkan,” tukas Firmansyah.

Jadi, lanjut Firmansyah, kalaupun debitur mau ikut asuransi jiwa dipersilahkan dan tidak mau ikut asuransi jiwa juga dipersilahkan. “Tapi hal tersebut tidak akan membatalkan akad kredit karena tidak diwajibkan,” terang Firmansyah.

Untuk kasus debitur almarhum Toham, lanjut Firmansyah, asuransi BRI Life dengan asuransi wajib tadi, itu terpisah dan tidak menjadi satu kesatuan. “Kalau asuransi jiwa itu beda karena itu BRI Life,” imbuh Firmansyah.

Ditambahkan Firmansyah, terkait pinjaman almarhum Toham, pihaknya tidak dapat menjelaskan secara detail. Lantaran hal tersebut merupakan domain dari manajemen BRI Life.

“Kita tidak mempunyai hak untuk menjelaskan detail terkait pinjaman debitur almarhum Toham terkecuali ada surat dari OJL, Pengadilan atau Kepolisian. Saya hanya bisa menjelaskan secara umum,” tukas Firmansyah.

Diterangkan Firmansyah secara umum, jika ada calon debitur ingin mengajukan pinjaman retail sebesar Rp 200 juta. Nah apakah pinjaman retail ini yang sebesar Rp 200 juta diasuransikan, pihak BRI hanya mengcover asuransi kebakaran.

“Masalah asuransi jiwa yang bersangkutan tergantung nasabahnya. Kita hanya menawarkan apakah mau di cover asuransi jiwa atau tidak. Kalaupun tidak mau tidak membatalkan akad kredit pinjaman,” beber Firmansyah.

Kemudian wartawan menanyakan kantor dan no kontak pihak BRI Life. Lalu Firmansyah pun memberikan nomor handphone pimpinan BRI Life di Baturaja. Sayangnya sampai berita ini diturunkan yang bersangkutan tidak mau mengangkat telepon dari wartawan. (*)