Bahaya Hustle Culture, Sistem Kerja yang Cenderung Melanggar Undang-undang

Para pekerja kantoran di Jakarta saat pulang kerja. Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN

JAKARTA, PALPOS.ID Hustle Culture merupakan budaya kerja yang membuat seseorang cenderung menghabiskan waktunya dengan bekerja.

Hustle Culture pada umumnya sering dijumpai atau hampir ditemukan di setiap bidang pekerjaan.

Jika kamu merasa selama ini waktumu habis untuk bekerja maka kamu perlu memikirkan kembali dampaknya.

Dilansir dari halodoc, penelitian pada 2018 yang dipublikasikan di Current Cardiology Reports, mengambil sampel subjek dari Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Cina.

Hasilnya, mereka yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu ditemukan memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular, seperti infark miokard (serangan jantung) dan penyakit jantung koroner.

Jam kerja yang panjang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan detak jantung karena aktivasi psikologis yang berlebihan dan stres.

Ini juga berkontribusi terhadap resistensi insulin, aritmia, hiperkoagulasi, dan iskemia di antara individu yang sudah memiliki beban aterosklerotik tinggi dan metabolisme glukosa yang terganggu (diabetes).

Risiko fibrilasi atrium juga meningkat pada orang yang bekerja 55 jam atau lebih per minggu.

Fibrilasi atrium adalah irama jantung yang tidak teratur, yang menyebabkan darah terkumpul di ruang atrium kiri dan dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, yang kemudian dapat menyebabkan stroke.

Selain itu, mereka yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu mengalami peningkatan cedera akibat kerja.

Penduduk Jepang yang bekerja 80 hingga 99 jam per minggu memiliki risiko 2,83 persen lebih besar terkena depresi, yang mengarah pada perilaku tidak sehat seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan tidak aktif secara fisik.

Bekerja keras tanpa istirahat dalam hustle culture meningkatkan risiko gangguan pada kesehatan mental. Beberapa masalah yang sering dialami adalah gejala depresi, kecemasan, hingga pikiran untuk bunuh diri.

Dengan memaksa diri dengan pola pikir “go hard or go home”, hustle culture menempatkan tubuh dalam kondisi fight or flight. Stres terus-menerus ini melepaskan hormon stres (kortisol) dalam jumlah yang lebih tinggi dan untuk periode yang lebih lama.

Untuk menormalkan kadar kortisol yang meningkat ini, tubuh harus memasuki keadaan istirahat. Namun, hustle culture tidak memberikan waktu untuk istirahat, sehingga kelelahan mental tidak bisa dihindari. Stres terus-menerus dapat membahayakan kesehatan mental dan fisik.

Secara regulasi, Hustle Culture ini pada dasarnya telah melanggar Undang-undang Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja baik dari segi jam kerja, penggajian, dan lain sebagainya yang cenderung merugikan pekerja.

Aturan sanksi misalnya, pekerja/buruh dapat dikenai denda jika melakukan pelanggaran kesengajaan atau kelalaiannya. Sebaliknya, jika pengusaha terlambat membayar upah, dapat pula dikenai denda sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja/buruh. Pengenaan denda dalam pembayaran upah tersebut diatur oleh Pemerintah.

Sementara itu, jika perusahaan pailit atau dibekukan karena peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh dianggap sebagai utang yang pelunasannya harus diprioritaskan.

Sedangkan perusahaan di Masa Pandemi Covid-19 saat ini terbukti sebagian tidak mampu membayar upah pekerjanya bahkan ada yang berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Belum lagi aturan pemberian tunjangan lainnya, misalnya THR. Beberapa perusahaan tidak mampu membayar THR karyawannya secara penuh bahkan ada yang tidak membayarnya sama sekali.

Terkait jam kerja, undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur jam kerja bagi pekerja di sektor swasta.

Sedangkan, untuk pengaturan mulai dan berakhirnya waktu jam kerja diatur sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 Pasal 77 ayat 1 mewajibkan setiap perusahaan untuk mengikuti ketentuan jam kerja yang telah diatur dalam 2 sistem yaitu, hari kerja 6 hari dengan 7 jam kerja per hari atau 40 jam per minggu dan masa kerja 5 hari dengan 8 jam per hari atau 40 jam per minggu.

Apabila jam kerja dalam perusahaan melebihi ketentuan tersebut, maka waktu kerja yang melebihi ketentuan dianggap sebagai lembur, sehingga pekerja berhak atas upah lembur.

Nah coba deh kamu bandingkan dengan sistem jam kerjamu yang ada saat ini! Apakah sudah sesuai dengan regulasi atau jauh dari kata manusiawi? (selfi/fajar)