Bocah Penderita Hydrosefalus Butuh Perawatan

Bocah penderita hydrosefalus dipangku sang ibu, Kamis (25/11). Foto: isro/palpos.id

INDRALAYA, PALPOS.ID – Seorang bocah berusia 5 tahun, Wahyu Hidayat, penderita penyakit Hydrosefalus atau menumpuknya cairan dalam rongga otak. Penyakit itu ia idap bahkan sejak dirinya berusia 1 tahun.

Putra kelima dari pasangan Sopar (51), dan Rusmi (39), warga Dusun 4 Desa Teluk Kecapi, Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir (OI) ini, kondisinya sangat mengenaskan. Bahkan saking kurusnya, rangkaian tulang lengan, kaki dan tulang rusuknya seakan dapat dilihat.

Selain itu, kepalanya yang membesar akibat banyaknya cairan. Dan pundak belakangnya lebam hingga menghitam akibat dibaringkan di tikar purun tanpa alas apapun, kecuali bantal sungguh memang sangat memprihatinkan. Terlebih di rumah tersebut tidak ada kipas angin karena tidak ada biaya untuk membayar dan memasang listrik (PLN).

Dikatakan bidan Desa setempat Destin, penyakit Hydrosefalus itu diagnosis sejak usianya satu tahun. Akan tetapi sejak dua bulan terakhir kesehatannya mulai menurun. Dari beratnya 12 kg dibulan selanjutnya menurun drastis sampai 8 kg, hingga sekarang menurun lagi jadi 7 kg.

“Dari awal penyakitnya terdeteksi selalu kita urusi, kita rawat bahkan setiap bulan kita posyandu juga kita kasih pendamping makanan seperti roti, telor dan susu, itu rutin setiap bulan,” terangnya ketika di bincangi media ini di kediaman warga tersebut, Rabu (24/11).

Akan tetapi, ungkapnya, sejauh ini tindakan medis baru sebatas perawatan oleh bidan desa dan puskesmas setempat. “Sebetulnya sedari bayi sudah kita rujuk ke Rumah Sakit, akan tetapi dari pihak keluarga menolak, karena tidak punya biaya. Meski telah memiliki kartu BPJS akan tetapi pihak keluarga beralasan uang ongkos, biaya selama menunggu perawatan tidak ada. Belum lagi anak-anaknya yang lain juga membutuhkan biaya makan juga biaya sekolah,” jelasnya.

Dikatakan Destin, dirinya mengharapkan Wahyu dapat dirawat dan di tangani oleh dokter ahli di rumah sakit dengan peralatan yang lebih baik dan lengkap. Agar penyakitnya bisa diketahui secara pasti dan dapat segera di obati. Dan jangan hanya dirawat di puskesmas atau bidan desa saja.

Rusmi, ibu Wahyu mengatakan, ketika lahir sehat dan normal seperti anak pada umumnya. Sejak anaknya lahir sampai usia 7 bulan bocah itu dikasih formula susu SGM, kemudian diganti susu kalengan SKM (kental manis). Ketika umurnya satu tahunan baru mengalami sakit-sakitan, kadang sehat kadang sakit. Nah, sejak 2 bulan terakhir badannya malah tambah habis.

Diakuinya, alasan mengapa dia mengganti susu tersebut, karena alasan finansial yang tidak memungkinkan. “Karena terbentur biaya anak saya yang no 2 mau masuk sekolah,” jelas Rusmi yang lagi mengandung sembari melihat anaknya yang selalu memanggil “emak-emak”.

Diakuinya, adapun profesi suaminya hanyalah buruh bangunan yang memiliki pendapatan Rp100 ribu sehari, itupun kalau ada borongan.

Ketika ditanya awak media terkait apakah keluarganya selama ini mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah seperti PKH juga yang lainnya, ia mengaku mendapatkan itu semua, bahkan anak-anaknya sering mendapatkan bantuan dari pihak sekolah. “Selalu dapat bahkan anak saya yang sekolah sering dapat bantuan. Akan tetapi himpitan ekonomi terlebih di jaman pandemi virus corona ini, bantuan tersebut hanya cukup untuk makan sehari-hari,” ungkap dia.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Hendra Kudeta, ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat Whatsaap mengatakan, sebetulnya pasien ini sudah lama dan sudah dipantau pihak Puskesmas Pemulutan.

“Sama untuk disarankan dirawat di RS, tapi keluarga pasien belum bersedia. Bahkan ada surat penolakannya untuk dirawat,” terang Hendra, Kamis (25/11).

Dia menambahkan, untuk keluarga pasien yang menunggu memang tidak punya anggaran. Tetapi kalau untuk pasien sudah ditanggung BPJS. Kalau untuk dirujuk disiapkan ambulance untuk mengantar ke RS.

“Hari ini Bides bersama dr Vera bawa anak tersebut Konsul ke RS Tanjung Senai. Orang tua anak punya BPJS. Mereka sudah berapa kali mau dirujuk, tapi mereka menolak. Surat pernyataan menolak untuk dirujuk ada Pak,” ucapnya sembari meneruskan jawaban dari Kepala Puskesmas Pemulutan.

Senada Camat Pemulutan M Zen mengatakan, bahwa bocah tersebut tengah dibawa ke RSUD Tanjung Senai Indralaya. (*)

Editor: Bambang Samudera