Dugaan Pelecahan Seksual Mahasiswi Unsri, Rektor : Kita Bentuk Tim Etik

Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri), Prof Anis Saggaf.

PALEMBANG, PALPOS.ID – Sejak beberapa bulan terakhir, mencuat kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami salah satu mahasiswi Universitas Sriwijaya (Unsri). Hal tersebut, menarik perhatian masyatakat khsusnya di kota Palembang.

Menanggapai hal tersebut, Rektor Unsri Prof Anis Saggaff, angkat bicara. Saat ditemui di Mapolda Sumsel dalam kegiatan penyerahan penghargaan kepada kepada mitra Polri, Anis mengatakan, pihaknya telah melakukan investigasi internal dengan membentuk tim etik untuk mengusut persoalan ini.

BACA JUGA: Korban Pelecehan Seksual di Unsri Bertambah Dua Orang

“Dalam hal ini, ketua dari tim itu adalah WR (Wakil Rektor) I dengan anggota WR sisanya dan ada juga dekan-dekan, sehingga investigasinya objektif dan memang dilakukan secara serius,” ujar Anis, Jumat (26/11).

Ditanyai apakah tim tersebut sudah bertemu dengan korban dugaan pelecehan, Anis sendiri belum memberikan jawaban pasti.

“Tim sudah bergerak, BEM sudah ditemui, mengenai korban, memang seharusnya diminta keterangan secara langsung oleh tim, karena tidak bisa kita cuma dari surat, terus langsung diputuskan hasilnya, apalagi surat itu dari informasi BEM,” jelasnya.

BACA JUGA: Kapolres OI Sangat Menyayangkan Belum Adanya Laporan Terkait Kasus Pencabulan di Kampus Unsri

Dalam hal ini, Anis akan membentuk tim penanggulangan untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual di Unsri.

Ini untuk mewujudkan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 yang berisi peraturan mengenai Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Kemudian, terkait kasus dugaan pelecehan seksual di lingkungan Unsri yang saat ini telah mencuat, Anis menjelaskan pihaknya masih mengedepankan asas praduga tak bersalah.

BACA JUGA: Rektorat Unsri Akan Dalami Dugaan Pelecehan Seksual

“Kita masih mengedepankan asas praduga tak bersalah, saya juga sudah buat edaran bahwa kedepan untuk komunikasi maupun publikasi lewat medsos ataupun surat menyurat, itu harus hati-hati, apabila kita kira dia berbuat pelecehan tetapi sebenarnya tidak, itu bisa jadi persoalan hukum,” tutupnya. (*)