Jurnalis Asal Sumsel Terbitkan Antologi Esai

Dahlan Iskan memberikan komentar dalam buku Masayu Indriaty Susanto. Foto: istimewa

JAWA TENGAH, PALPOS.ID – Wartawan alias jurnalis asal Sumsel, Masayu Indriaty Susanto, baru-baru ini menerbitkan antologi esai.

Antologi itu berupa kumpulan 35 tulisannya yang telah diterbitkan di berbagai media di tanah air.

Buku dengan cover merah hati itu berjudul “My Window; a Passion for Journalism”.

Launching antologi esai telah dilaksanakan dalam sebuah diskusi publik bersama Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, di sebuah cafe di Solo, Jawa Tengah, pekan lalu.

Antologi itu memuat tulisan dalam beragam topik. Dari politik, pendidikan, humaniora, psikologi parenting, sains, teknologi, hingga life style.

“Jurnalistik adalah bidang profesi yang terbuka terhadap banyak bidang ilmu. Banyak jurnalis yang latar belakangnya bukan dari bidang ilmu jurnalistik. Namun fenomena itulah yang membuat dunia pers menjadi dunia yang begitu menantang, dinamis, dan kreatif,” ujar Masayu Indriaty yang alumni Fmipa Kimia Universitas Sriwijaya ini, Kamis (02/12).

Dia menegaskan, satu hal yang penting, yaitu jurnalis harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Dan harus terus belajar dan melakukan upgrading terhadap penguasaan teknologi.

“Penguasaan masalah, wawasan, dan teknologi harus update terus. Harus mampu mengikuti zaman. Juga menjaga etika dan perfomance. Itu penting untuk menjadi jurnalis profesional,” tambahnya.

Dia juga menegaskan, setiap produk pers termasuk pers kampus harus memiliki tujuan yang jelas. Dan setiap produk pers haruslah mampu mencerahkan, edukatif, bemuatan kebenaran, dan membangkitkan nasionalisme.

Simbol Perlawanan, Tanpa Gaduh

Masayu Indriaty Susanto adalah jurnalis senior yang memulai karir jurnalistiknya sejak 20 tahun lalu. Sebagian besar karirnya dijalani di berbagai media dalam jaringan Jawa Pos News Network (JPNN).

Masayu Indriaty Susanto, Jurnalis asal Sumsel. foto: istimewa

Dia mengawali karirnya di Harian Palembang Pos (Sumeks Group) pada tahun 2000. Dia pernah bertugas di Indopos Jakarta, Jawa Pos Surabaya, dan Riau Pos Pekanbaru.

Selain penulis buku, saat ini Masayu adalah jurnalis dan kolumnis di beberapa media.

Begawan Media Dahlan Iskan dalam pengantarnya pada antologi esai itu menyoroti jika Masayu adalah salah seorang wartawan yang “tersesat”.

Pasalnya, background pendidikan Masayu adalah sains kimia murni. Tetapi menjadi seorang jurnalis adalah pilihan hidupnya.

Dahlan Iskan juga menyoroti jurnalisme masa kini yang dinilainya telah mengalami kemunduran karena dirusak oleh era media sosial dan media ala online yang hanya mengutamakan kecepatan dan serba instan. Sehingga gaya penulisan dan esensi dalam suatu tulisan hilang.

Sementara Dr Dhimam Abror, mantan Pimpinan Redaksi Jawa Pos dalam pengantarnya menyoroti sistem patriarkhi dalam dunia pers nasional yang masih dominan. Dan Masayu adalah salah satu jurnalis perempuan yang berada di tengah dominasi kaum adam itu.

Koresponden Jawa Pos untuk Austrakia yang juga doktor komunikasi dari Universitas Padjajaran ini juga menyoroti berbagai esai yang ada dalam antologi itu begitu terbuka terhadap berbagai perspektif.

Sehingga setiap pembaca akan memiliki sudut pandang yang bisa jadi tidak sama.

“Passion Masayu sebagai jurnalis membawanya mengembara menembus topik-topik yang selama ini menjadi dominasi maskulin. Topik-topik yang didominasi maskulin itu, menjadi cair dan ringan tapi tetap bertenaga di tangan Masayu,” tambahnya.

Sementara Dr Hendra Alfani, mantan jurnalis harian Sumatera Ekspress Palembang yang juga doktor komunikasi dari Universitas Padjajaran dalam purnawacananya menyoroti kiprah Masayu yang banyak menulis topik politik. Yang selama ini dianggap topik yang “berat”,  dan karena itu lebih banyak dilakoni jurnalis laki-laki.

“Saya melihat ada simbol perlawanan dari Masayu dari tulisan-tulisannya di antologi esai ini. Ide-ide dalam tulisannya itu merupakan upayanya untuk mendobrak dominasi dan sistem patriarkhi dalam dunia pers. Perlawanan yang tanpa gaduh,” ujarnya. (*)

Editor: Bambang Samudera